Posted by: idak on: September 26, 2008
Apa yang sampeyan rasakan sesaat setelah mendapat pujian? GR? Melayang? Merasa lebih dihargai? Semakin percaya diri? Balik memuji? Semuanya wajar, asal jangan berlebihan. Pada dasarnya, seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan diwujudkan dengan kata-kata dan ekspresi yang tulus, akan mendapatkan penghormatan balik dari orang yang dipujinya. Say: saya menghormati dan menghargai Anda lebih dari yang Anda tahu. Jadi, jika kita banyak memberi dengan ikhlas, maka kita akan mendapat balasan sesuai dengan kadar keikhlasan itu, bahkan bisa jadi lebih besar dari yang kita kira.
Dalam berdoa pun, ada adabnya. Bukan langsung pada list permintaan, tetapi dimulai dulu dengan puji-pujian, berupa asmaul husna. Dilanjutkan dengan shalawat, baru content do’anya, dan ditutup sekali lagi dengan perasaan takut dan penuh harap, yang pada dasarnya juga merupakan pujian kepada Sang Pemilik Semesta beserta isinya, bahwa tanpa pertolongan dari-Nya, kita bukanlah apa-apa.
Jadi pada dasarnya, konsep ini merupakan satu logika sederhana. Sama seperti halnya jika kita ingin mengajak orang lain berbuat kebaikan, maka yang harus dilakukan bukanlah langsung to the point seperti memberikan perintah, namun dimulai dengan menyentuh hatinya. Pun ketika kita ingin memberikan sebuah kritik, maka kemukakan dulu kelebihan2 orang tersebut, baru kemudian sampaikan dengan bijak, maksud dan tujuan dari arah pembicaraan.
Semoga bermanfaat.
Recent Comments