idA.K

Dokter Sakti

Posted on: September 7, 2006

Alhamdulillah recover sudah.

Udah 3 harian ini berteman dengan drugs dan half dozen of 195 ml of fresh cow milk, not bear milk, but why did they mark it with ‘Bear’ anyway? (tanyakenapa). Antibiotik patent dan parasetamol adalah bahan wajib yang juga ikut menemani. Setiap aktifitas yang memerlukan gerakan sederhana menyebabkan pegal, bagai renta yang tak berdayašŸ˜¦ hiks. Apalagi jika kulit tersentuh air keran yang dingin. Brrrr….

Hari ke-2, panas mulai turun, dan reaksi normal pada umumnya: berkeringat! Tandanya sudah hampir sembuh. Tapi belom napsu makan niy.. ditambah mual (dikit).

Ceritanya, persediaan obat didapat dari … say… Dokter Satu. Tiap berobat ke situ, malah ditanya, “Biasanya minum obat apa?”. Hehe, yang belom pernah ke situ pasti kaget dan bingung. Meneketehe?! Tapi gpp. Lain kali kalo berobat ke situ, ingetin aja obat yang udah pernah dikasih, pasti sama. Kalopun beza, gak jauh2 amat, lah. Dokter ini dari planet MaRs.

Hari ke-3. Ceritanya lagi, demi mendukung tertib administrasi kantor, melangkahlah lagi ke … say… Dokter Dua. Niatnya cuma biar dapet surat keterangan sakit aja, karena emang udah merasa sembuh.

Pasien tekan bel satu kali.

Teeet…. bel ditekan. Sebuah sapaan dari dalam menyuratkan untuk menunggu sebentar. O, lagi ada pasien rupanya. Tak lama kemudian, yang di dalam keluar. Kami masuk. Yang sakit siapa? Telunjuk diangkat. Ditanya macam2. Keluhan, alamat tinggal, hubungan dengan pengantar, dllsb lah. Dikeluarkanlah senjata 1: stetoskop. Doang?? Oh, ada lagi: senter gede. Trus, sang empunya ruangan praktek -yang dindingnya penuh sertipikat, sampe dindingnya gak kliatan lagi- masuk ke dalam, meracik obat. Dari 20++ tahun yang lalu sampai sekarang, obatnya sama: kapsul ijo-putih. Cuma karena sekarang udah milenium, kapsulnya oranye-item.

P: “Minta ditensi, Dok. Sebulan yang lalu pernah tensi, rendah banget, Dok”. Kemudian tersebutlah angka sistole/diastole yang beberapa puluh dibawah normal.
D: “Pusing nggak?”

P: “Nggak sih, Dok..”

PengantarP: “Iya, Dok. Sekalian tensi aja Dok..”

D: “Dia bilang enggak pusing kok?” (Bersikeras) Kalau perempuan, (darah) rendah itu biasa. Kecuali kalau pusing itu baru darah tinggi. Sudah, ini obatnya, dihabiskan, ya.

P dan PengantarP berpandangan.

“Sekalian, Dok, minta surat keterangan sakit, dari Selasa sampai Rabu aja.” Sret-sret-sret. Spidol digores pada kertas. Tandatangan mengakhiri steno.

Sampai di rumah, lamat-lamat kuamati. Hati-hati kubuka lipatan kertas yang nampak bagai kertas dari kitab kuning yang sangat dihormati. Kubaca baris demi baris, sampai huruf terakhir.

Jakarta, ………….. 19….

Ttd.

Ternyata Surat Keterangannya belum Y2K ready. (lol)
šŸ˜€ Oke lah, secara, jas dokternya tangan panjang, I trust you, Doc.

__________

Keterangan:
P= Pasien
D= Dokter
PengantarP= Pengantar Pasien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: