idA.K

All Marketers Are Liars (?)

Posted on: August 22, 2007

All Marketers Are LiarsBaca buku ini di awal-awal agak males juga soalnya bahasa translate yang digunakan agak kurang cocok, tanggung-tanggung gimana gitu. Setelah agak urung juga untuk meneruskan membaca, tapi dipaksakan untuk terus dibaca, mungkin karena penasaran, sebab pengarangnya Seth Godin, sih 🙂

Buku yang terbitan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer (BIP) -kelompok Gramedia- tahun 2005, setebal 210 halaman ini membahas secara singkat apa dan bagaimana sebenarnya cerita yang disampaikan seorang marketer sehingga prospek mau percaya pada cerita mereka dan pada akhirnya membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Walaupun keputusan membelinya lebih disebabkan karena keinginan dan bukan kebutuhan. Tapi sudut pandangnya agak dirubah sedikit, yaitu dari sudut pandang konsumer. So marketer melakukan apa yang diminta konsumer, tentang apa yang mereka percaya. Dalam melakukan marketing pun ada prioritas targetnya. Ibu-ibu yang pro makanan sehat, mana mau ditawarin makanan instant, for example. Tapi gimana caranya si ibu-ibu tadi bisa ‘lunak’ hatinya dan berbalik mendukung produk yang nyata-nyata nggak pernah dilirik tadi. Di sinilah marketing bekerja.

Namun ada kode etik yang juga harus ditaati para marketer ketika beraksi, yaitu otentisitas dan kejujuran dari cerita itu sendiri.

Tapi yang pasti, bahkan sebelum seorang marketer menyampaikan cerita, cara pandang dan pola pikir prospek sudah ada sebelumnya, dan mengubah cara pandang ini adalah sebuah kesalahan. Jadi yang harus dilakukan adalah mencari prospek yang prosperous dan sampaikan cerita sesuai dengan cara pandang mereka, as if we were saying: bahwa anda sudah berada di jalur yang benar, dan kami datang untuk mendukungnya, dan memberikan sounding kepada prospek bahwa betapa mereka sudah benar sedari awal. Jadi siapa yang liar sebenernya? Consumer-lah yang membohongi diri mereka sendiri dengan cara pandang mereka sendiri 😀 [peace] –errr is that means including me?– but I believe in ada harga-ada rupa.

Dalam pemasaran, kesan pertama sangat berarti. Di sini Seth memberikan contoh yang benar-benar mengena dimana orang akan sangat terpengaruh dengan label ‘produk merek ternama dan mahal’ dan membelinya atas dasar keinginan dan bukan karena mereka benar-benar membutuhkan produk tersebut.

Oh ya, di dalam buku ini Seth juga memberikan sedikit view tentang contoh purple cow: sebuah online store dan toko online (lagi) yang menjual barang berpasangan yang tidak cocok antara kiri dan kanan?

Gambar diambil dari sini. (Gak usah dkasih taujuga udah tau, hehe)

Advertisements

1 Response to "All Marketers Are Liars (?)"

Seperti hal-nya Starbucks, orang2 spent a lot of time and money untuk duduk di Starbuck bukan krn kenikmatan kopi-nya tapi emotional value yg ditawarkan oleh Starbucks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Recent Quakes

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: