idA.K

Hari Ini, Sepuluh Tahun Yang Lalu

Posted on: May 12, 2008

Mei 12, 2008 – 10 tahun reformasi gini-gini aja. Paling demo-demo lagi. BBM naik lagi. Cuman beda presiden aja. Demonya seruan yang dulu daripada sekarang.

Dulu, tahun ’98, ngeliat demo secara LIVE dari jalan Salemba Raya. Secara, masih sekolah di situ. Ngeliat orang-orang sangar bakar-bakaran pohon, gedung, ngerusak pager pembatas jalan, menjarah barang-barang dari toko-toko, nggulingin mobil + mbakar mobilnya, yang paling seru, waktu SMA dulu, pertama kalinya ngeliat sniper di bawah flyover Pramuka arah Salemba. Wah, horor…

Untungnya Wakasek (Wakil Kepala Sekolah) cepat bertindak, mengungsikan anak murid ke kampoeng tetangga. Sehingga walaupun tak ada kendaraan oemoem ‘tuk ditumpangi hingga ke rumah, minimal anak-anak selamat dari amuk massa. Menunggu sambil memantau dengan cemas dari rumah teman yang letaknya dekat dengan sekolah, sampai malam tiba, situasi kira-kira sudah aman, barulah nebeng mobil teman hingga sampai di rumah dengan selamat. Pak Wakasek adalah anak Timor berperawakan tinggi besar, berkulit hitam, berkumis lebat. Matanya berwarna abu-abu bagus sekali. Beliau adalah yang pertama kali melihat gulungan asap tebal dari gedung sebelah yang adalah sebuah showroom mobil kepunyaan anak mantan penguasa yang sekarang sudah almarhum. Kabarnya kemudian Pak Wakasek naik jabatan menjadi Kepala Sekolah. Tapi entahlah.

Namun cobaan tak cukup sampai di situ. Di rumah pun, ramailah diberitakan bahwa perusuh akan segera sampai ke daerah kami di Kelapa Gading. Kerusuhan merebak di mana-mana. Tak luput pun daerah kami yang marak penduduk keturunan Tinghoa. Pun toko sebelah ditutup rapat-rapat khawatir dijarah barangnya, dan dituliskan besar-besar dengan cat yang mencolok: ‘Milik Pribumi,’ atau ‘Pribumi Muslim,’ atau dituliskan dengan huruf Arab yang besar-besar: ‘Allahu Akbar,’ atau ‘Laa ilaaha ilaLlah.’

Kami pun sudah sempat berkemas, tapi tak bisa lari kemana. Transportasi publik lumpuh. Barang berharga sudah dikumpul. Persenjataan bakal lindung diri pun sudah di tangan. Wah, gemetar sahaja yang ada. Tak dapat bayangkan jikalau benar terjadi mereka masuk ke daerah kami. Do’a-do’a seadanya dilantunkan. Sejenak masjid umumkan agar waspada, siaga penuh. Di ujung jalan memang sudah diportal dan dijaga aparat keamanan. Tapi apalah daya kalau jumlah mereka lebih besar?

Beberapa hari sebelumnya memang ramai diberitakan di teve, kalau kumpulan mahasiswa tengah menyuarakan untuk menggulingkan penguasa yang ada waktu itu. Demo marak di mana-mana. Ada satu demo yang besar sekali waktu itu di lapangan Monas, dipimpin oleh Bapak Reformasi ketika itu. Ah, mirip Tiananmen saja. Tapi waktu itu aku belum mengerti. Yang aku tahu, Ibu menyuruh beli susu bendera kalengan 1 kg ke toko sebelah. Kemudian adik dan kakakku juga serupa, berulang kali. Rupanya sedang ‘menimbun’, khawatir situasi makin chaos dan barang-barang habis hingga tak ada lagi yang bisa dimakan. Namun ternyata tidak sampai sebegitu.

Perusuh tak sampai ke daerah kami. Pun berkaleng-kaleng susu kami bagikan ke saudara-saudara.

Penguasa itu kini telah tumbang. Tapi hasil yang dikorupnya belum juga kembali ke rakyat. Rakyat makin menderita mengantre minjak tanah. Kemudian ada apa lagi itu namanya? BLT- Bantuan Langsung Tunai. Malahan sekarang ada plus-nya. BLT Plus namanya. Ah, sampai kapan mau kasih rakyat obat generik terus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: