idA.K

Air rendaman kembang 7 rupa

Posted on: September 3, 2008

Rendeman aer kembang 7 rupa. Ritual ini paling sering disebut-sebut belakangan ini. Bukan, bukan karena bertalian dengan praktik santet atawa mistis dan perdukunan, bukan pula karena kasus sms langganan Ki joko apalah, dengan nomor tujuan tarif premium 6886 yang dipercayai sebagai angka keramat dan sebagainya.

Tapi ini lebih kepada peristiwa internal.

Begini ceritanya. Kita lagi asik kerja nih (cie.. kerja kok asik). Masing-masing serius dengan menatap layar dan papan tuts. Jaket tebal tak mampu sedikit pun mengurangi rendahnya suhu ruangan yang meskipun diputar-putar pengontrol temperaturnya, tak jua kunjung menaikkan suhunya barang sedikit. Sesekali menoleh ke buku-buku tebal cetakan Pearson yang internasional edision gitu deh, atau kertas catatan merek 3M. Sesekali membuat coretan kecil di sobekan kertas dengan pulpen kayu berhias jambulan tali-tali merah tua dan bertuliskan ‘Sarawak’. Ceklek! Suara pintu ruangan dibuka. Ada orang masuk. Masing-masing tak menggubris siapa yang datang. Menoleh pun tidak. Masih berjibaku dengan tumpukan tugas dan pekerjaan. Ruangan ini merupakan sharing room antara research assistant dengan part time lecturer. Koneksi internet menggunakan kabel LAN. Bisa juga dengan WiFi namun dengan tingkat konektifitas yang amat memprihatinkan, karena letaknya yang sangat tidak strategis, jauh dari pusat kebisingan aktifitas kampus. (e ini sisi positif ato negatif ya?)

Terdengar suwara ambilan beberapa sendok teh kopi (bingung kan?) -maksudnya kopi disendok pake sendok teh- dimasukkan ke dalam gelas. AHA!! Ya, gelas!! Dan, CEklek!!! lagi-lagi suara pintu dibuka dan orang yang tadi masuk keluar lagi.

Seperti baru tersadar dari tidur nyenyak yang panjang, kami ber2 pun terhenyak dan tergopoh-gopoh berlari menuju tempat kejadian perkara: nampan berisi gelas-gelas bersih yang berada dalam posisi tengkurap yang sudah dibersihkan ISS penyedia jasa kebersihan. Sepatu yang seharunya menempel di kaki tak sempat dipakai untuk menuju lokasi kejadian (kami suka menggunakan sepatu teplek nan butut bin dekil dan menanggalkannya demi kenyamanan, namun tetap memiliki persediaan sepatu formal jika satu waktu ada miting penting). Ah… terlambat..!!! Kami berseru kecewa, dan kemudian saling berpelukan menyatakan tanda ‘duka cita’ yang mendalam. Salah satu gelas entah milikku atau miliknya tidak nampak keberadaannya di tempat seharusnya bernaung. Dan kamipun berbicara tentang rendeman aer kembang 7 rupa tadi. Membahas sebuah penelitian tentang kandungan kimiawi yang terdapat dalam ekstrak bunga-bungaan alam Indonesia yang dapat menghilangkan noda dan noktah bekas dari jenis robusta atau arabica, dan jangka waktu perendaman lengkap dengan temperatur dan bentuk bak rendaman yang ideal. Inilah akibat fatal yang ditimbulkan jika lupa atau terlambat menyelamatkan properti (baca: gelas) masing-masing di ruangan dingin ini. Besok lagi, tidak akan kami ulangi keteledoran serius ini. Namun satu hal kami yakini dengan pasti: tersangka utama pelaku teror menyeramkan ini. Dengan tinggi kira-kira 170an sentimeter, berperawakan gemuk, memakai kacamata hitam walaupun di luar nampak mendung, berkulit putih pucat  pasi khas ras arya, warna rambut coklat muda, menenteng tas hitam, dengan setelan jas warna krem atau broken white, namun tak jarang bersliweran dengan celana pendek sedengkul dan baju Hawaii dengan topi koboy, berinisial PG, yang mengeja namanya saja kami menemukan jalan buntu.

***T*A*M*M*A*T***

Advertisements
Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: